Jumat, 19 Agustus 2011

Sistem Informasi Kesiapsiagaan Bencana

Upaya kesiapsiagaan dalam penyelenggarakan penanggulangan bencana dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi kejadian bencana. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam upaya kesiapsiagaan menginventarisasi sumber daya yang siap dimobilisasi dan menyiapkan lokasi evakuasi.

Pentingnya penentuan dan inventarisasi lokasi evakuasi yang disususn dalam sistem informasi kesiapsiagaan diharapkan mampu meningkatkan kinerja penanganan bencana di daerah tertentu.
Kabupaten Cianjur dan Solok dipilih sebagai 'pilot project SIGAB' dengan pertimbangan bahwa keduanya mempunyai tingkat kerawanan dan risiko bencana yang tinggi.

If you want to view This Site , Please go to : http://sigab.bnpb.go.id/


Technology : Code Igneter, Mysql, KML Overlay, Legenda, Google API, Maps

Kamis, 14 Juli 2011

APAKAH WIRAUSAHA HANYA ADA DI KUADRAN B?

Di tengah hiruk-pikuknya orang berlomba-lomba menjadi “wirausahawan saat ini, banyak yang justru merasa rancu dengan apa sebenarnya yang dimaksud dengan wirausaha. Sebagian masyarakat yang sudah membaca buku-buku heboh dari Robert Kiyosaki (RK), bahkan bertanya apakah yang namanya wirausahawan itu hanya ada di kuadran B (business owner = pemilik usaha)?

RK sendiri tidak menyinggung tentang kewirausahaan secara spesifik. Ia hanya fokus pada pencerahan tentang jenis-jenis sumber penghasilan yang bisa diperoleh manusia, mencermatinya serta mengarahkan pembacanya untuk memilih sumber-sumber mana saja yang akan digeluti. Itulah yang menyebabkan kita semua sekarang ikut menggunakan istilah “kuadran E (employee=karyawan), “kuadran S (self employed=pekerja mandiri), “kuadran B (business owner=pemilik usaha) serta “kuadran I (investor= penanam modal).

Namun demikian, beberapa dari kita seakan-akan telah terlalu cepat menyimpulkan bahwa yang namanya wirausahawan itu haruslah orang-orang yang aktivitas utamanya ada di kuadran B.

Mereka mengklaim bahwa kalau orang ingin menjadi wirausahawan, segeralah berhenti bekerja sebagai karyawan. Seketika itu juga bangunlah usaha, tanpa banyak dipikir-pikir atau dihitung-hitung. Sebab kalau banyak pikir dan hitung, dikuatirkan nanti malah tidak akan pernah terwujud aspirasi menjadi seorang wirausahawan.

Tidak salah kalau dikatakan bahwa orang yang menjalankan bisnis secara mandiri, adalah orang-orang yang mempunyai penghasilan di kuadran B. Akan tetapi, kalau kita bicara bahwa “wirausahawan hanya ada di kuadran B, mungkin kita harus teliti dahulu dari sudut mana kita menyatakan hal itu.

Sedikitnya ada 2 sudut pandang mengenai wirausaha yang dapat kita bahas dalam konteks ini. Yang pertama adalah wirausaha sebagai profesi. Dan yang kedua, wirausaha sebagai semangat (spirit) berusaha.

Bila bicara mengenai wirausaha sebagai profesi, maka benarlah apa yang dibahas di atas, bahwa ini menunjuk kepada mereka yang berkiprah di kuadran B. Akan tetapi, spirit kewirausahaan juga akan mengedepankan orang-orang yang ada di kuadran-kuadran lainnya, yang nota bene memiliki semangat untuk membangun usaha sendiri. Berarti wirausahawan ada dan hadir di kuadran S, I bahkan di kuadran E sekali pun.

Di dunia “self employed people (kuadran S), terdapat orang-orang yang memang berusaha secara mandiri, sambil berupaya mengaktualisasikan jati diri mereka. Mereka ingin karyanya dikenal sebagai prestasi pribadi mereka sendiri, bukan karya orang lain. Itu sebabnya mereka merasa lebih nyaman berkiprah di kuadran S, bukan di E, B atau I.

Di kuadran “I, umumnya ada orang-orang yang sebelumnya melakukan sepak terjang kewirausahaan di kuadran lain, dan setelah memperoleh sumber daya finansial, mereka terjun ambil bagian di dalam dunia investasi.

Dengan demikian, jelas bahwa kewirausahaan hadir di semua kuadran.

Perhatikanlah bahwa di antara sekian banyak karyawan yang sumber penghasilannya ada di kuadran E, terdapat beberapa orang yang sedang berupaya mengumpulkan modal uang, sebagai bekal kelak mendirikan usahanya sendiri. Sebagian lagi juga sedang menimba pengalaman dan ilmu pengetahuan, untuk persiapan terjun ke dunia usaha di masa depan.

Dilihat dari segi spirit, mereka itu sudah dapat dikatakan sebagai wirausahawan, walau belum bisa dikatakan sebagai orang yang berprofesi sebagai pengusaha. Biar bagaimana pun, mereka perlu waktu untuk mempersiapkan diri baik untuk mengumpulkan modal atau pun menimba pengalaman sebelum benar-benar “fit and proper beralih profesi menjadi pengusaha formal.

Berkaitan dengan itu, ada baiknya bila kita, sesama trainer, mentor atau pun narasumber serta pionir wirausaha, agar barangkali tidak usah terlalu terburu-buru “memaksa rekan-rekan yang masih ada di kuadran E untuk secara instan dan serta-merta meninggalkan karirnya guna beralih profesi menjadi pengusaha di kuadran B.

Bagai bayi yang lahir prematur, seseorang yang kurang persiapan akan terancam kebangkrutan fatal bila terjun ke dunia usaha secara instan. Contoh kejadiannya sudah cukup banyak, tapi saya belum pernah mendengar ada trainer atau mentor wirausaha yang mau memberikan kompensasi atau ganti rugi kepada yang bangkrut setelah mengikuti himbauannya.

Robert Kiyosaki sendiri mengatakan, bahwa tidak penting seseorang itu profesinya apa, yang penting adalah mengerti bagaimana mengeksplorasi sumber-sumber penghasilan dari berbagai kuadran yang ada.

Rabu, 08 Juni 2011

Best practices for ensuring software implementation success

When organizations undertake software implementations, they do not anticipate failure despite the risks associated with such complex projects. Rather, they plan for success, governed by their budgets, deliverables, executive expectations and go-live deadlines. Yet despite their best efforts at project management, failure rates remain high.


 
Software implementations fail for variety of reasons, including lack of top management commitment, unrealistic expectations, poor requirements definition, improper package selection, gaps between software and business requirements, inadequate resources, unrealistic budgets and schedules, poor project management, lack of project management methodology, underestimating the impact of change, lack of training and education, and---last but not least---poor communication.


 
With such a laundry list of failure factors, improving the odds of software implementation success seems impossible, but it can be accomplished. It begins with a blueprint of strategic project assurance at critical points in the implementation. Such a project assurance blueprint establishes a clear understanding of expectations among all people involved--from business and IT management to vendor partners and end users.


 
The Need for Project Assurance
 
Project assurance is about making sure that projects are delivered on time, on-budget, with client acceptance. Having project assurance as part of a large-scale software implementation helps you:


* control/reduce project costs


 
* ensure milestones are met


 
* minimize surprises


 
* provide objective analysis


 
* provide peace of mind and trust among executives and project team members


 
Project Assurance methodologies are based on the following best practices:


 
1. Identify the real issues. At the leadership level, you need to develop an executive dialog that allows business and organizational issues to be identified and analyzed with clarity and without emotion. Continue this dialog throughout the implementation process. Remove organizational barriers both within the organization and with third-party vendors. All parties should be aligned with the common goal of project success.


 
2. Set realistic time frames. Don't rely on the existing schedule. Many organizations will set overly optimistic go-live dates despite the realities and limitations of the actual project. For example, the design phase extends, but the time line doesn't. You must monitor project progress throughout the implementation and start discussions regarding key project dates early in the project's lifecycle to avoid downstream impacts.


 
3. Align the work streams. You need to identify, align and continuously monitor work streams to ensure smooth progress throughout the organization. Understand dependencies between work streams during project plan development to ensure proper resource allocations and project time frames. Continue to monitor the interdependencies throughout the project.


4. Look beyond the indicators. Contrary to popular opinion, green may actually be red. Realistic monitoring and analysis of the implementation's progress can show that even though all project management indicators are green, warning signs indicate endangered components. If indicators are only addressing past phases, but not addressing readiness for upcoming project tasks and activities, they are definitely trailing indicators and not trustworthy predictions of the future.


 
5. Manage the expectations. Critical to maintaining control of the project, you need to manage the confluence of overly optimistic go-live dates against outside influences and interdependencies, such as available resources and realistic expectations. Set realistic expectations upfront and keep expectations current in the minds of project team members so that they don't lose sight of the forest while maneuvering around a tree.


 
6. Seek objectivity. Assessments conducted by an outside expert add both value to the project implementation and protection against the high cost of failure. Expertise delivers the know-how and the objective oversight needed to overcome organizational roadblocks. It also provides you with peace of mind. Assessments should be conducted by an executive project manager or software implementation expert who has managed enough projects successfully to know how to recognize subtle indicators, intervene to accommodate the situation, and adjust expectations accordingly.


 
Employing a project assurance methodology empowers you to go beyond traditional project management barriers and gives you the answers you need to ensure project success. It helps you identify and resolve the strategic, tactical and intangible issues, and manage the human factors before issues become insurmountable. And best of all, project assurance gives you (and everyone else involved) peace of mind that the project is on the right track.

 

Jumat, 27 Mei 2011

INCLUSIVE EDUCATION With HANDICAP INTERNATIONAL and UNI EROPA

The right to education is universal and extends to all children. Still, it is considered that the majority of CwDs are out of school, while many of those enrolled are not learning adequately.

The overall objective of the present project is the full participation of children with Disability (CwDs) in Nusa Tenggara Barat communities. This long term objective will be reached in part as a result of the project implementation itself but also with the contribution of all sectors concerned.

 In achieving the specific objective To contribute to a quality shift toward an inclusive education system in 3 districts and 1 urban city of NTB province, it is expected that Children with disability will be placed at the core of the learning system. The development of their learning environment should take a holistic approach whereby community actors such as community leaders, parents, DPs etc. participate in the education process. This approach, which will include the full participation of children, will be set up during the project to ensure sustainability of the inclusive education system.  To obtain the full participation of CwDs, they themselves require the maximum close support in and out of school. This support should take into account the existing education frameworks which are part of the decentralization process. Considering this main approach, the participation and commitment of all educational actors within the project as well as children with disabilities will be supported.in a particular activity based on project frame.


Moreover, support to the development of education policies and action plans defined at provincial and district level will be provided to ensure that they take into account all disabled children, encourage their full participation and promote diversity.

Minggu, 22 Mei 2011

Infrastruktur dahulu, setelah itu SISTEM

Anda bekerja di kantor atau sebuah organisasi? Lingkungan tempat kita bekerja tentu telah banyak didukung oleh perangkat TI seperti jaringan komputer, sistem operasi, data center,  server dll. Peralatan tersebut tidak sembarangan dipilih atau difungsikan tapi harus direncanakan dengan baik agar dapat memberikan hasil yang ideal.

Dukungan infrastruktur TI yang baik akan memberikan kontribusi pada percepatan pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya jika infrastrukturnya tidak baik justru bisa menghambat pencapaian tujuan. Bahkan lebih dari itu, dengan infrastruktur TI yang baik dapat menjadi key enabler bagi perkembangan organisasi.
Apa itu key enabler dan bagaimana kita menata dan merencanakan infrastruktur TI yang baik butuh pengetahuan yang meliputi:

I. Perencanaan infrastruktur aplikasi perusahaan:
  • Identifikasi komponen-komponen infrastruktur TI suatu perusahaan dan pembakuannya.
  • Memadukan kebutuhan strategis organisasi, tren teknologi, dan standar industri (best practices).
  • Berorientasi pada arsitektur aplikasi perusahaan.
II. Pengelolaan tingkat layanan (service level) TI perusahaan:
  • Fokus pada daur hidup infrastruktur TI perusahaan.
  • Aspek-aspek tingkat layanan: kapasitas & skalabilitas, ketersediaan & keandalan, dan keamanan.
  • Perencanaan dan pengukuran kapasitas infrastruktur.
  • Prosedur-prosedur pengelolaan infrastruktur berdasarkan best practices.
Tapi sebelum membahas lebih lanjut saya ingin memaparkan terlebih dahulu tentang definisi infrastruktur. Kalau kita mendengar kata infrastruktur apa yang terbayang? Jalan raya, listrik PLN, jembatan, saluran PAM, jaringan kabel Telkom dan segala hal yang sifatnya fisik dan menjadi dasar bagi penggunaan alat alat yang lain diatasnya (suprastruktur).
Ada beberapa karakterisktik umum dari infrastruktur antara lain:
  • Pemakaiannya lebih luas dibanding struktur diatasnya (yang didukungnya).
  • Lebih permanen/statis dibanding struktur diatasnya.
  • Terhubung secara fisik dengan struktur diatasnya.
  • Sering diperhitungkan sebagai servis/layanan pendukung.
  • Dimiliki dan dikelola oleh pihak yang berbeda dari struktur yang didukungnya.
Kemudian apa yang dimaksud dengan infrastruktur TI dapat dilihat dari gambar dibawah ini:


Jadi infrastruktur TI berjalan diatas infrastruktur publik seperti listrik, gedung dll. Dalam infrastruktur TI dapat dilihat tidak hanya terdiri dari perngakta keras tapi juga terdiri dari perangkat lunak seperti OS, aplikasi middleware dan database.

Kecenderungan infrastruktur semakin hari semakin merambat naik. Semakin banyak komponen perangkat lunak yang menjadi dasar bagi komponen perangkat lunak yang lain untuk dapat bekerja. Contohnya adalah library bahasa pemrograman. Template template design (theme) yang dapat digunakan oleh banyak aplikasi.
Bahkan trend sekarang ada yang disebut SOA (Service Oriented Architecture) yang menyediakan dirinya (aplikasi) untuk dapat digunakan secara bersama oleh aplikasi yang lain. Pengertian infrastruktur dalam TI sudah tidak lagi berarti sesuatu yang statik (hardware) tapi sudah menjadi sesuatu yang lebih fleksible (software).

Sekarang seperti apa infrastruktur TI yang ideal?

Dunia bisnis sekarang ini sudah semakin pervasive yang artinya tanpa TI maka kegiatan bisnisnya tak dapat berlangsung seperti database perbankan misalnya, atau sistem informasi akademik sebuah universitas. TI tidak hanya sudah menjadi key operational tapi juga sudah menjadi competitive advantage. Bank misalnya kalau jaringan ATMnya sering mati maka Bank tersebut akan kalah bersaing dengan Bank yang jaringan ATMnya lebih stabil dan lebih luas.

Masuknya TI dalam wilayah strategis ini membuat TI menjadi key enabler bagi perusahaan tersebut. Key enabler maksudnya menjadi kunci pemungkin terhadap sesuatu peluang bisnis yang baru. Contohnya sebuah perusahaan besar yang ingin mengakuisisi atau merger perusahaan pesaingnya yang memiliki sistem TI yang berbeda maka jika sistem TI mereka tidak dapat diselaraskan supaya dapat bekerja sama maka akuisisi/merger tersebut tidak dapat dilakukan yang berarti hilangnya peluang bisnis.
Disinilah pentingnya merencanakan infrastruktur TI yang fleksible sebab TI itu bisa menjadi kendala sekaligus juga bisa menjadi peluang. Ada beberapa motivasi kenapa kita harus memiliki infrastruktur TI yang ideal:

Motivasi: key enabler
  • Teknologi Informasi (TI) adalah key enablerperusahaan untuk merealisasikan strategi bisnisnya.
  • Strategi bisnis adalah sesuatu yang dinamis: sewaktu-waktu berubah.
  • TI harus dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan strategis perusahaan:
    • Unit bisnis atau layanan baru
    • Kantor cabang baru
    • Restrukturisasi organisasi, dsb.
Motivasi: adaptiveness
  • Kecepatan mengimplementasikan perubahan adalah persyaratan strategis.
  • TI harus dibuat fleksibel untuk dapat mengakomodasi perubahan secara cepat dan efisien.
  • Kunci: infrastruktur TI yang adaptif.
  • Mengapa infrastruktur?
    • Infrastruktur dapat menjadi kendala atau membuka peluang inisiatif bisnis.
Kita melihat perusahaan operator telpon selular berlomba lomba mengadopsi terknologi terbaru seperti 3G, 3.5G dst. Padahal pasar belum siap memanfaatkan teknologi baru tersebut, ini karena mereka ingin memiliki infrastruktur TI yang adaptif kedepan guna meraih peluang peluang bisnis baru, bisa lewat konten atau berbagai inovasi lain dikemudian hari.
Adaptiveness dari sebuah infrastruktur TI dapat diukur dari:
  • Time to Market: kecepatan implementasi layanan baru.
  • Scalability: mampu mengakomodasi peningkatan penggunaan/beban.
  • Extensibility: kemudahan menambah komponen baru.
Kemudian ciri dari infrastruktur TI yang adaptif:
  • Efisien: Dengan tersedianya komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai sistem aplikasi (lama & baru).
  • Efektif: Dengan komponen-komponen yang mudah dipadukan (interoperable) dan diintegrasikan.
  • Fleksibel (agile): Dengan komponen-komponen yang mudah dirombak, di-upgrade, atau diganti
Selain ciri di atas dapat dilihat dari:
  • Minimasi Kompleksitas
    • Minimasi biaya pengelolaan, termasuk penyediaan SDM.
    • Strategi: perencanaan komprehensif, arsitektur modular, penyeragaman, menghindari duplikasi.
  • Maksimasi Utilitas (Value)
    • Maksimasi return on investment.
    • Strategi: penggunaan ulang/bersama, penerapan open standards.
Setelah mengetahui infrastruktur yang ideal lalu bagaimana caranya mendapatkan infrastruktur TI yang ideal?

Jaman dulu kita kenal kalau aplikasi biasanya monolitik, satu buah source code menangani segala macam fungsi. Ini bukan startegi yang baik sebab pengembangan akan menjadi sulit karena tidak fleksibel. Strategi yan baik dengan memecah aplikasi besar menjadi sistem yang modular perlayanan fungsi. Dengan demikian sistem menjadi lebih adaptif.
Strategi untuk mencapai adaptiveness:
  • Complexity Partitioning:partisi arsitektur aplikasi ke dalam komponen-komponen yang dapat dikelola secara terpisah (modular).
  • Reusability: pemanfaatan ulang/silang komponen-komponen infrastruktur oleh berbagai layanan TI perusahaan.
  • Integration: pemanfaatan teknologi open standard yang memungkinkan integrasi antar komponen-komponen infrastruktur.
Permasalahan yang sering muncul ketika kita akan merencanakan sebuah infrstrusktur TI dalam sebuah organisasi adalah:
  • Infrastruktur sering tidak terencana dengan baik
    • Tidak merupakan bagian dari perencanaan strategi bisnis.
      CEO jarang ikut merencanakan infrstruktur, disinilah peran CIO dibutuhkan.
    • Juga tidak dilibatkan dalam perancangan aplikasi sejak awal.
    • Bersifat ad-hoc: sesuai dengan kebutuhan aplikasi-aplikasi baru, tanpa standarisasi.
  • Hasilnya: infrastruktur dengan kompleksitas tinggi, tidak terfokus, dengan biaya operasi dan pemeliharaan tinggi.
Solusi dari permasalahan ini dapat diuraikan dalam berapa poin:
  1. Merencanakan infrastruktur secara menyeluruh (holistic)
    • Mencakup seluruh perusahaan.
    • Mencakup berbagai tingkatan struktur.
  2. Juga mempertimbangkan kebutuhan infrastruktur dimasa depan
    • Mengakomodasi perubahan dan pertumbuhan.
  3. Memaksimasi penggunaan ulang dan silang (reuse) komponen infrastruktur (termasuk infrastruktur SDM).
  4. Memilih teknologi yang tepat
    • Menerapkan open-standardsuntuk menjamin interoperabilitas dan kebebasan dari keterikatan pada vendor.
    • Melihat kesesuaian dengan kebutuhan bisnis dan kesiapan/kemampuan organisasi mengadopsinya.
  5. Menerapkan prosedur baku dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur.
    • Platform: Kategori komponen-komponen dasar infrastruktur.
    • Pattern: Struktur sistem aplikasi yang melibatkan platform-platform.
    • Service: Layanan TI yang menyediakan fungsi-fungsi umum (dapat dipakai bersama).
  6. Menggunakan pola-pola tersebut sebagai template dalam perancangan infrastruktur, dengan lebih cepat dan efisien.
    • Perancangan berbasis pola memudahkan identifikasi komponen yang dapat dipakai bersama
      • Berdasarkan kesamaan pola antar aplikasi.


Perhatikan bagian atas (stovepipes) dimana tiap tiap aplikasi memiliki infrastrukturnya sendiri sendiri sedangkan yang bagian bawah (pattern-based) semua aplikasi mengunakan infrastruktur yang sama.
Menurut Robertson & Sribar komponen-komponen infrastruktur dapat digolongkan dalam tiga konsep sentral:

Dalam pendekatan pattern-based dapat diidentifikasi beberapa pola aplikasi umum yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merancang berbagai aplikasi perusahaan.
Untuk dapat membuat infrastruktur bersama dalam pattern-based , Robertson-Sribar menggunakan metodologi sbb:

Metodologi perencanaan infrastruktur TI.
  1. Inventarisasi/pendataan teknologi
    • Berdasarkan kategori system layer (lihat gambar diatas):
  2. Identifikasi dan pengembangan pattern-pattern (pola) arsitektur
    • Konfigurasi-konfigurasi standar yang banyak diterapkan (best practice) untuk berbagai sistem aplikasi.
    • Tiap pattern umumnya mempersyarat-kan satu set infrastruktur teknologi.
    • Menjadi acuan bagi pengembangan aplikasi atau layanan baru.
  3. Identifikasi dan pengembangan infrastruktur service
    • Identifikasi fungsi-fungsi sistem yang bersifat umum.
    • Jadikan fasilitas penyedia fungsi-fungsi tersebut sebagai service untuk umum.
    • Pengalihan tugas/tanggung-jawab pengelolaan fasilitas tsb dari bagian aplikasi ke bagian infrastruktur.
  4. Pengelolaan portfolio infrastruktur
    • Organisasikan platforms, patterns, dan services dalam suatu portfolio standar perusahaan.
    • Sebagai pusat informasi untuk perencanaan (costing, capacity planning, quality assurance).
    • Secara periodik dilakukan reviewatas standar-standar yang dipilih, baik dalam jangka panjang (strategic planning) maupun jangka pendek (tactical planning: per-proyek).
  5. Pelembagaan perencanaan infrastruktur
    • Pembentukan peran Manajer atau Perencana Infrastruktur TI
    • Terpisah dari organisasi pelaksana proyek pengembangan aplikasi.
    • Memilih dan menetapkan standar-standar infrastruktur TI perusahaan.
    • Mengembangkan interface (misal: middleware) bagi penggunaan ulang/silang sumber daya infrastruktur.
  6. Pengelolaan infrastruktur sebagai paket-paket solusi.
    • Mengkemas layanan-layanan infrastruktur sebagai paket produk
    • Lengkap dengan informasi tentang manfaat, kapasitas, persyaratan kinerja (service level), dan costing.
    • Memudahkan pihak manajemen bisnis untuk mengevaluasi dan mengambil keputusan tentang investasi infrastruktur.
    • Dapat dikembangkan menjadi profit center.
  7.  
    Dengan mengikuti metodologi diatas dalam merencanakan infrastruktur TI menurut Robertson & Sribar bisa diperoleh sebuah infrastruktur yang adaptif dan menjadi aset organisasi yang strategis.

Senin, 09 Mei 2011

Disaster recovery on a budget

Scenario: Backing Up Core Systems
Tim Barbee, CIO, North Central Texas Council of Governments Earlier this year, I initiated a project to develop a business-impact analysis and update me on the disaster-recovery requirements for each of the agency's departments. I did not like what I saw. Based on the sheer number of affected systems, we were looking at a price tag north of $1 million. As you can glean from headlines across the country, state government agencies are in a budget crisis and we're not in a position to request funds for disaster-recovery capabilities that we hope we never have to use. Even so, it is a critical service we must provide.
One of the big-ticket items in a disaster-recovery plan that meets our requirements is a backup data center, but the budget is not going to allow that. I am interested in creative, cost-effective ways to provision similar capabilities. For example, Microsoft's cloud business solution, Office 365, includes a hosted email platform we can access from the cloud. Theoretically, all we would need in a disaster would be a laptop and an Internet connection. The service includes data backup and recovery at no additional cost. So what other disaster-recovery approaches exist for things like email, telecommunications and core systems?
Advice: Allocate your backup workspace like TV time slots
Marty Gomberg, SVP and CIO, A&E Television Networks
The idea was simple. My end users need instant access to critical systems, but that does not mean they need access for the full eight-hour workday during a disaster. Rather, key personnel could complete their critical tasks in an assigned block of time. We took the number of seats in a conference room and scheduled each in one-hour blocks on a 24-hour schedule. We then asked the business units to assign slots to key personnel. For example, accounts payable could request three seats for three hours each to complete their priority tasks. These are all scheduled and prioritized. We applied the exact same time-allocation approach to our virtual services. For example, we bought a limited number of Citrix licenses to assign to virtual seats where remote staff could perform critical functions.
Through this combination of rotating physical and virtual access, I have been able to support hundreds of people doing their most critical activities. The model works well to reduce the cost of crisis operations. The advance planning it requires helps to identify which tasks are most important to continue in a crisis and which you can simply put on hold.
 
Advice Use All Your Resources, Not Just the Obvious Ones
Paul T. Cottey, CIO, Accretive Health When creating contingency plans for a disaster of any type, it is easy to forget, in the midst of your worry about all your critical, multimillion-dollar systems, that your people are the most important (and least costly) resource to protect. We realized that our ability to contact key staff in the event of a disaster was dependent upon the very systems that could fail. For example, we might not be able to look up contact information in our email system. That's why we maintain a hard-copy list of personal email addresses and phone numbers for critical IT support staff. Even if technology fails, I still have a low-tech way to reach my guys.

from :  http://www.networksasia.net/content/disaster-recovery-budget?utm_source=lyris&utm_medium=newsletter&utm_campaign=nwa_daily_with_ucs&section=eNews_topstory

Selasa, 03 Mei 2011

Tips Trik SEO Webometrics (Proposal Meningkatkan SEO Universitas/STIMIK/POLITEKNIK)

“Webometrics Ranking of World Universities” disingkat WRWU adalah sebuah tool untuk benchmarking bagi kemajuan TIK sebuah perguruan tinggi, WRWU secara resmi diluncurkan pada tahun 2004 dan diupdate setiap 6 bulan. Data dikumpulkan pada bulan Januari dan Juli kemudian dipublikasikan pada bulan berikutnya. Tujuan umum dari WRWU adalah mendorong komunitas akademik mengenai pentingnya publikasi melalui web. Yang perlu dicatat adalah indikator berbasis web tersebut bukan hanya sekedar tersedianya web institusi dan pengetahuan akademis saja, tetapi juga mengukur kegiatan ilmiah, kinerja, content yang lengkap dan hasil efeknya juga.


penentuan ranking webometric ditentukan oleh 4 indikator, yaitu :

· Size (S). Jumlah pages yang terindek oleh empat source engine utama yaitu :  Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.

· Visibility (V). Jumlah keseluruhan  unique external links  (inlinks) yang terdeteksi oleh  Yahoo Search, Live Search and Exalead.

· Rich Files (R). Dari sekian banyak file yang terdeteksi maka dipilah file yang memiliki tingkat relevansi terhadap aktivitas akademik dan publikasi ilmiah, dalam bentuk file : Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) and Microsoft Powerpoint (.ppt).

· Scholar (Sc). Secara khusus Google Scholar akan memberikan jumlah paper dan sitasi dari setiap domain akademik.


Fitur Layanan :

  Google Ranking

  Yahoo Ranking

  Bing Ranking

  Google Scholar Ranking

  SEO Meta Tag

  SEO Woorank

  Site Explorer

  Linkdomain:http://domain.com.

  Site:URL<spasi>filetype:.pdf Site:domainanda.com filetype:.pdf / doc/ ppt /ps

  site:http://domain.com

  Link to link subdomain

  Alexa Rank

  Inlinks dan Backlinks

  Tool-Tools Samurai, pendukung SEO


Bagi universitas yang ingin di webometrics khan kedalam SEO harus mempunyai kepercayaan penuh terhadap enginernya, termasuk memberikan user dan password supaya bisa lebih bisa merombak tanpa adanya keterbatasan. Akan tetapi bagi universitas sendiri harus mempunyai keunikan tersendiri supaya bisa dinikmati oleh orang umum.

1.    Kualitas Penelitian (Research Quality)
2.    Kesiapan Kerja Lulusan (Graduate Employability)
3.    Pandangan Internasional (International Outlook)
4.    Kualitas Pengajaran (Teaching Quality)

Lihat Gambar di bawah ini :
1. Jika berwarna merah, BELUM benar
2. Jika berwarna Orange / Kuning , Sedikit Mendekati Benar
3. Jika Berwarna Hijau, SUDAH benar



Jika menginginkan proposal bisa, email, sms, atau chating yang berada di menu kanan. terima kasih